Pernah mendengar sebuah ungkapan "kencan buta"? Apaan tuh? Kencan sambil tutup mata? Kencan sambil colok colokan mata? Apa kencan yang berkomunikasi pake huruf braile? Konyol ya. Sebenernya bukan itu yang dimaksud dari ungkapan "kencan buta". Disini maksud dari kencan buta adalah dua orang sejoli yang mencoba untuk bermesra-mesraan, berkenalan, pacaran melalui apa yang namanya chatting, sms-an, fb-an, atau apalah itu namanya fasilitas-fasilitas lain yang dapat digunakan untuk berhubungan dan berkomunikasi. Singkatnya adalah, kencan ini belom masuk ke tahap bertemu, dan masih bercengkrama melalui dunia maya. Kalo mau ketemu namnya kopi darat ya pemirsa.
Beberapa dari kita mungkin sudah terbiasa chattingan dengan orang yang gak dikenal. Mungkin baru kenal lewat FB, dengan kalimat simple "thx ya udah di approve, boleh kenalan?". Kalimat yang terdengar awkward bagi yang tak terbiasa. Tapi ampuh bagi orang yang penasaran dan berjiwa "sosial". Lalu perbincangan panjang lebar dimulai, sampai keduanya seakan terbuai oleh hangatnya kata-kata lawan bicaranya tersebut. Yang satu merayu dengan kata-kata indah nan anggun, sehingga yang lainnya merasa terayun ayun di awan dengan kata-katanya tersebut. Dan yang lain mulai menggiring yang satunya lagi dengan perhatiannya, dan dengan iming iming "cinta" (huwekk).
Pendeknya adalah, masing masing pasangan cukup percaya pada pasangannya melalui kata-kata yang dituliskan melalui papan keyboard itu. Masing masing percaya satu sama lain tanpa harus melihat secara langsung seperti apa orang yang dia lihat. Seperti apa orang yang dia selama ini anggap sebagai pasangannya. Pernahkah dipikiran keluar petanyaan yang menyentil kebenaran?. Yang dipanggil "babe..." yang nanya "udah makan sayang???" apakah di aslinya dia memang begitu? Atau dia hanya berani berbuat demikian di dunia maya? Tapi mengingat ini kan masih nuansa tahun baru ya, terngiang resolusi tahun barunya adalah berpikir positif ya kita yakin aja deh dia mah orangnya baik, tidak sombong, baik hati, rajin menabung, dan sayang keluarga dunia akhirat. Pertanyaannya adalah benar begitu?.
Kencan buta mungkin menghasilkan pasangan-pasangan yang memang "hoki" dapet orang yang tepat buat dijadikan pendamping hidup, ya memang jodoh diatur Tuhan kan, kita bisa apa kalo Tuhan mau kita jadi sama orang yang dikenal di kencan buta. Tapi berapa banyak dari mereka yang langgeng sampai ke kursi pelaminan? Extreme-nya berapa banyak kesialan yang dihadapi orang yang bertemu orang jahat disana? Saya kasih contoh berita deh ya tapi ini ceritanya sedikit lucu. http://news.detik.com/read/2013/10/26/100444/2396128/1148/2/kencan-buta-pria-china-kaget-bertemu-menantunya-di-kamar-hotel <<<< boleh dibaca buat yang iseng, tapi tulisan ini sebenarnya tidak untuk membicarakan tentang kencan buta.
Nah, apes gak itu? Apes kan? Kencan buta disini hanya menjadi sebuah ilustrasi buat kita semua. Pernah kah kita percaya sesuatu dan mungkin menjadi fanatik akan apa yang kita percaya. Misalnya adalah sesuatu yang berkaitan dengan agama. Kita pasti percaya apa yang kitab suci katakan kepada kita, betul? Tapi seberapa dalam kita mempercayai apa yang kita baca disana? Pernahkah berpikir bisa saja kitab suci kita "salah" (maaf ya). Salah disini maksudnya adalah dalam segi penterjemahan atau tafsiran. Dari setiap tulisan atau tafsiran seseorang pasti ada latar belakang penulis yang dia share dalam tulisannya. Siapapun tak terkecuali. Disetiap tulisannya pasti ada buah pemikirannya yang dipengaruhi faktor faktor external sehingga terbentuklah suatu suasana tulisan yang sedemikian rupa. Dan tulisan ini TIDAK lagi orisinil sesuai dengan sumber yang dia baca, dia lihat dan dia ungkap karena telah tercampuri oleh urusan pribadinya dan faktor faktor external yang disebutkan tadi.
Yang unik adalah, setiap manusia dikaruniai oleh pemikiran masing masing, sehingga masing masing akan menganggap pikirannya merekalah yang paling benar, sehingga terjadi keadaan dimana tidak adanya kebenaran absolut yang bisa dipercaya oleh kita, dan beberapa tulisan liar inilah yang kalo kita "apes" yang kita percayai. Karena pengetahuan yang kurang kita meng-iya-kan semuanya yang tertulis tersebut tanpa harus menyelidiki apakah tulisan ini benar dan apakah dasar dia berkata hal ini dan itu. Mengapa dia mengatakan ini dan itu. Apa tujuannya dia mengatakan ini dan itu. Dan benarkah ini dan itu yang dia katakan tadi?
Logika kita harusnya dapat menyaring sesuatu hal dengan sangat baik. Kita patut berterima kasih kepada guru Bahasa Indonesia yang mengajarkan kita 5W+1H. Itu merupakan cara paling simple buat menganalisa sesuatu. Intinya adalah dengan bertanya kita dapat mendalami dan memahami apa yang kita percayai. Menganalisa suatu kejadian dari berbagai sudut pandang terlebih dahulu, tanpa mengurangi rasa percaya kita terhadap hal tersebut. Sebagai mahasiswa, saya mau curhat tentang bagaimana pengajaran di kampus berlangsung. Si dosen berbicara panjang lebar dengan tidak jelasnya, dan kemudian dia bertanya ke anak anak "ada yang mau bertanya?". Dan seisi kelas bungkam seribu kata karena emang gak ngerti apa apa, apalagi disuruh nanya. Mungkin ada beberapa yang cukup berani buat bertanya ke dosennya "pak, saya gak ngerti yang *bla *bla *bla...". Beberapa pertanyaan berbobot (dan ini jarang ya), dan beberapa gak berbobot (mahasiswa cari muka). Kualitas dosen dapat terlihat dari pertanyaan yang mahasiswa ajukan dan bagaimana dia menjawab pertanyaan tersebut. Ya kita yang gak ngerti apa apa sih cuman ngangguk ngangguk aja ya, (percaya buta :p ).
Dosen sebagai pengajar sepatutnya dapat menjawab pertanyaan yang diajukan mahasiswa dengan baik. Tapi dosen adalah manusia yang bisa saja melakukan kesalahan. Dosen yang baik akan memberikan jawaban sebisa dia jawab, dan jika dia tidak bisa maka dia akan mengakui bahwa dia tidak bisa menjawab itu dan meminta waktu untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut. Sebagai mahasiswa kita akan menerima dulu apa yang dosen kita jawab sebelum dia dapat memberikan jawaban sebenarnya, dengan demikian juga, kita percaya dulu deh apa yang si dosen ngomong, tapi gua masih percaya yang menurut gua bener. Dosen yang lebih baik adalah yang memberi tahu sumber apa yang dia gunakan untuk mengajar, sehingga mahasiswa dapat membacanya juga dan dapat berdiskusi dengan dosen tersebut bila memang ada hal yang dirasa kurang pas. Dengan melihat sumber aslinya kita juga dapat menganalisa dengan baik apa yang sebenarnya dimaksud. Mentelaah kebenaran sesuatu dari sumber aslinya merupakan langkah paling jitu untuk menganalisa sesuatu. Kalau tulisan berbentuk buah pikiran maka faktor external tadi patut jadi acuan juga (cari tau latar belakang penulisan). Makanya mahasiswa suka dikasih text book, buku panduan, dll buat dibaca.
Percaya buta seakan sudah mendarah daging dalam kehidupan kita. Takut untuk mempertanyakan sesuatu. Merasa tabu untuk ditanyakan. Tapi ketika orang menanya balik tentang apa yang kita percaya, dengan anggun kita berkilah "ini prinsip gua". -__- enak banget ya. Bukankah prinsip dapat djiabarkan. Mengapa kita berprinsip itu? Untuk menanggulangi kesalahan berikutnya, ada baiknya kita pahami dulu apa yang kita percaya. Objektif bukan subyektif, mendalami apa yang kita percaya dari segi kebenarannya tanpa mengurangi rasa percaya kita terhadap pertanyaan yang kita ajukan tadi (kalau emang prinsip ya). Tapi terbuka juga dengan pemikiran baru yang dapat kita pakai untuk memperbaiki kepercayaan kita. Berpikiran lah terbuka, lihat dari berbagai sudut pandang, dan yang paling penting sesuai fakta yang ada. Oh iya, jika memang harus berdiskusi, berdiskusi lah dengan yang berkompeten. Jangan kepada orang yang menurut mereka "kompeten". Seperti beberapa tetangga saya yang ngaku pemuka agama tapi menebar kebencian dimana-mana (maaf ya) melalui tafsirannya yang menurut dia benar (bahaya bener). Kalau kita pintar, pahami dulu matter - nya, analisa (cari tau) dulu kebenarannya, dan berfikir positif (dan terbuka) terhadap hal tersebut. Dan jangan lupa lihat faktanya! Salam sayang, tetap lah berpikiran terbuka, dan jangan percaya buta ;). Hidup Demokrasi!!!!
Note: Maaf kalo ada yang tidak berkenan, post ini untuk berbagai golongan tanpa menyudutkan salah astu golongan terternut. Menerima sanggahan yang objektif dan membangun :)))))
Beberapa dari kita mungkin sudah terbiasa chattingan dengan orang yang gak dikenal. Mungkin baru kenal lewat FB, dengan kalimat simple "thx ya udah di approve, boleh kenalan?". Kalimat yang terdengar awkward bagi yang tak terbiasa. Tapi ampuh bagi orang yang penasaran dan berjiwa "sosial". Lalu perbincangan panjang lebar dimulai, sampai keduanya seakan terbuai oleh hangatnya kata-kata lawan bicaranya tersebut. Yang satu merayu dengan kata-kata indah nan anggun, sehingga yang lainnya merasa terayun ayun di awan dengan kata-katanya tersebut. Dan yang lain mulai menggiring yang satunya lagi dengan perhatiannya, dan dengan iming iming "cinta" (huwekk).
Pendeknya adalah, masing masing pasangan cukup percaya pada pasangannya melalui kata-kata yang dituliskan melalui papan keyboard itu. Masing masing percaya satu sama lain tanpa harus melihat secara langsung seperti apa orang yang dia lihat. Seperti apa orang yang dia selama ini anggap sebagai pasangannya. Pernahkah dipikiran keluar petanyaan yang menyentil kebenaran?. Yang dipanggil "babe..." yang nanya "udah makan sayang???" apakah di aslinya dia memang begitu? Atau dia hanya berani berbuat demikian di dunia maya? Tapi mengingat ini kan masih nuansa tahun baru ya, terngiang resolusi tahun barunya adalah berpikir positif ya kita yakin aja deh dia mah orangnya baik, tidak sombong, baik hati, rajin menabung, dan sayang keluarga dunia akhirat. Pertanyaannya adalah benar begitu?.
Kencan buta mungkin menghasilkan pasangan-pasangan yang memang "hoki" dapet orang yang tepat buat dijadikan pendamping hidup, ya memang jodoh diatur Tuhan kan, kita bisa apa kalo Tuhan mau kita jadi sama orang yang dikenal di kencan buta. Tapi berapa banyak dari mereka yang langgeng sampai ke kursi pelaminan? Extreme-nya berapa banyak kesialan yang dihadapi orang yang bertemu orang jahat disana? Saya kasih contoh berita deh ya tapi ini ceritanya sedikit lucu. http://news.detik.com/read/2013/10/26/100444/2396128/1148/2/kencan-buta-pria-china-kaget-bertemu-menantunya-di-kamar-hotel <<<< boleh dibaca buat yang iseng, tapi tulisan ini sebenarnya tidak untuk membicarakan tentang kencan buta.
Nah, apes gak itu? Apes kan? Kencan buta disini hanya menjadi sebuah ilustrasi buat kita semua. Pernah kah kita percaya sesuatu dan mungkin menjadi fanatik akan apa yang kita percaya. Misalnya adalah sesuatu yang berkaitan dengan agama. Kita pasti percaya apa yang kitab suci katakan kepada kita, betul? Tapi seberapa dalam kita mempercayai apa yang kita baca disana? Pernahkah berpikir bisa saja kitab suci kita "salah" (maaf ya). Salah disini maksudnya adalah dalam segi penterjemahan atau tafsiran. Dari setiap tulisan atau tafsiran seseorang pasti ada latar belakang penulis yang dia share dalam tulisannya. Siapapun tak terkecuali. Disetiap tulisannya pasti ada buah pemikirannya yang dipengaruhi faktor faktor external sehingga terbentuklah suatu suasana tulisan yang sedemikian rupa. Dan tulisan ini TIDAK lagi orisinil sesuai dengan sumber yang dia baca, dia lihat dan dia ungkap karena telah tercampuri oleh urusan pribadinya dan faktor faktor external yang disebutkan tadi.
Yang unik adalah, setiap manusia dikaruniai oleh pemikiran masing masing, sehingga masing masing akan menganggap pikirannya merekalah yang paling benar, sehingga terjadi keadaan dimana tidak adanya kebenaran absolut yang bisa dipercaya oleh kita, dan beberapa tulisan liar inilah yang kalo kita "apes" yang kita percayai. Karena pengetahuan yang kurang kita meng-iya-kan semuanya yang tertulis tersebut tanpa harus menyelidiki apakah tulisan ini benar dan apakah dasar dia berkata hal ini dan itu. Mengapa dia mengatakan ini dan itu. Apa tujuannya dia mengatakan ini dan itu. Dan benarkah ini dan itu yang dia katakan tadi?
Logika kita harusnya dapat menyaring sesuatu hal dengan sangat baik. Kita patut berterima kasih kepada guru Bahasa Indonesia yang mengajarkan kita 5W+1H. Itu merupakan cara paling simple buat menganalisa sesuatu. Intinya adalah dengan bertanya kita dapat mendalami dan memahami apa yang kita percayai. Menganalisa suatu kejadian dari berbagai sudut pandang terlebih dahulu, tanpa mengurangi rasa percaya kita terhadap hal tersebut. Sebagai mahasiswa, saya mau curhat tentang bagaimana pengajaran di kampus berlangsung. Si dosen berbicara panjang lebar dengan tidak jelasnya, dan kemudian dia bertanya ke anak anak "ada yang mau bertanya?". Dan seisi kelas bungkam seribu kata karena emang gak ngerti apa apa, apalagi disuruh nanya. Mungkin ada beberapa yang cukup berani buat bertanya ke dosennya "pak, saya gak ngerti yang *bla *bla *bla...". Beberapa pertanyaan berbobot (dan ini jarang ya), dan beberapa gak berbobot (mahasiswa cari muka). Kualitas dosen dapat terlihat dari pertanyaan yang mahasiswa ajukan dan bagaimana dia menjawab pertanyaan tersebut. Ya kita yang gak ngerti apa apa sih cuman ngangguk ngangguk aja ya, (percaya buta :p ).
Dosen sebagai pengajar sepatutnya dapat menjawab pertanyaan yang diajukan mahasiswa dengan baik. Tapi dosen adalah manusia yang bisa saja melakukan kesalahan. Dosen yang baik akan memberikan jawaban sebisa dia jawab, dan jika dia tidak bisa maka dia akan mengakui bahwa dia tidak bisa menjawab itu dan meminta waktu untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut. Sebagai mahasiswa kita akan menerima dulu apa yang dosen kita jawab sebelum dia dapat memberikan jawaban sebenarnya, dengan demikian juga, kita percaya dulu deh apa yang si dosen ngomong, tapi gua masih percaya yang menurut gua bener. Dosen yang lebih baik adalah yang memberi tahu sumber apa yang dia gunakan untuk mengajar, sehingga mahasiswa dapat membacanya juga dan dapat berdiskusi dengan dosen tersebut bila memang ada hal yang dirasa kurang pas. Dengan melihat sumber aslinya kita juga dapat menganalisa dengan baik apa yang sebenarnya dimaksud. Mentelaah kebenaran sesuatu dari sumber aslinya merupakan langkah paling jitu untuk menganalisa sesuatu. Kalau tulisan berbentuk buah pikiran maka faktor external tadi patut jadi acuan juga (cari tau latar belakang penulisan). Makanya mahasiswa suka dikasih text book, buku panduan, dll buat dibaca.
Percaya buta seakan sudah mendarah daging dalam kehidupan kita. Takut untuk mempertanyakan sesuatu. Merasa tabu untuk ditanyakan. Tapi ketika orang menanya balik tentang apa yang kita percaya, dengan anggun kita berkilah "ini prinsip gua". -__- enak banget ya. Bukankah prinsip dapat djiabarkan. Mengapa kita berprinsip itu? Untuk menanggulangi kesalahan berikutnya, ada baiknya kita pahami dulu apa yang kita percaya. Objektif bukan subyektif, mendalami apa yang kita percaya dari segi kebenarannya tanpa mengurangi rasa percaya kita terhadap pertanyaan yang kita ajukan tadi (kalau emang prinsip ya). Tapi terbuka juga dengan pemikiran baru yang dapat kita pakai untuk memperbaiki kepercayaan kita. Berpikiran lah terbuka, lihat dari berbagai sudut pandang, dan yang paling penting sesuai fakta yang ada. Oh iya, jika memang harus berdiskusi, berdiskusi lah dengan yang berkompeten. Jangan kepada orang yang menurut mereka "kompeten". Seperti beberapa tetangga saya yang ngaku pemuka agama tapi menebar kebencian dimana-mana (maaf ya) melalui tafsirannya yang menurut dia benar (bahaya bener). Kalau kita pintar, pahami dulu matter - nya, analisa (cari tau) dulu kebenarannya, dan berfikir positif (dan terbuka) terhadap hal tersebut. Dan jangan lupa lihat faktanya! Salam sayang, tetap lah berpikiran terbuka, dan jangan percaya buta ;). Hidup Demokrasi!!!!
Note: Maaf kalo ada yang tidak berkenan, post ini untuk berbagai golongan tanpa menyudutkan salah astu golongan terternut. Menerima sanggahan yang objektif dan membangun :)))))